Paragliding (paralayang) di Gunung Banyak, Batu - Malang. Potensi pariwisata yang menggiurkan untuk dikembangkan
Pengalaman terbang pertama dengan paralayang(paragliding) kemarin akan menjadi hal yang tak terlupakan. Dengan tandem pak Ikhsan (atlet paralayang PON Jatim) saya bisa melayang-layang di udara seperti burung rajawali, sangat funtastis jauh lebih menantang daripada terbang dengan AdamAir .
Saya sangat terkesan dan berterimakasih sekali kepada para penggiat olahraga paralayang ini yang dengan ramah dan sabar memandu kami untuk terbang bersama di tengah kesibukan padat mereka persiapan PON beberapa bulan lagi. Selain pak Ikhsan dan pak Ali sebagai Tandem, ada pak Bayu seorang mantan pemandu wisata petualangan profesional yang saat ini sudah mempunyai bisnis sendiri di bidang outbound traning dan wisata adventure. Ada juga pak Thomas sebagai jenderal FASI di Malang yang juga merupakan salah satu dari empat juri paralayang nasional yang ada di Indonesia.
Kemarin kami ber-tujuh bersama para account manager dan technical manager dari salah satu perusahaan telekomunikasi nasional, salain itu saya bersama pak Amar dari Linkmedia. terimakasih untuk bapak2 ini yang mengajak entertain adventure tak terlupakan ini, semoga nanti kita bisa ketemu lagi untuk belajar sebagai pilot yg terbang sendiri tidak pakai tandem lagi :D.
Sebagai olahraga dirgantara (aero sport) yang boleh terbilang baru, paragliding ini masih belom banyak di kenal masyarakat. Selain karena terbilang baru, mungkin juga ada persepsi kalau olahraga dirgantara seperti ini sangat mahal sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa menikmatinya. Atau juga ada persepsi kalau olahraga dirgantara merupakan olahraga beresiko tinggi menantang maut. Mari kita lihat apakah benar demikian.
Pertama soal biaya, dengan 250rb untuk tandem paralayang di Gunung Banyak Batu saya pikir banyak sekali bisa menjangkaunya. Harga segitu sudah sangat murah dibanding di tempat2 lain seperti di daerah puncak jawa barat, Wonogiri Solo jateng atau di beberapa tempat lain di Sumatra dan Bali.
Seperti aero sport lainnya, keselamatan menjadi prioritas utama, ada standart safety. Untuk bisa terbang sendiri atau membawa tandem ada lisensi sendiri (spt lisensi pilot pesawat terbang) yang dikeluarkan FASI(Federasi Aerosport Indonesia). Seperti dijelaskan para instruktur disana, untuk memperoleh lisensi ini harus ditempuh dengan serangkaian ujian dan tes yang ketat.
Informasi seperti ini sangat diperlukan untuk lebih memasyarakatkan olahraga satu ini, saya sendiri yang tinggal di Malang justru diajak orang dari Surabaya baru bisa ikut terbang. Saya yakin orang malang sendiri juga banyak yang belum mengerti bagaimana caranya menikamati olahraga menarik ini (meskipun sering lihat klo lewat di daerah Payung Batu).
Dengan informasi yang tepat akan bisa menjadi objek wisata yang menghasilkan pendapatan bagi daerah bahkan devisa dari para turis asing. Penggunaan media website akan sangat tepat jika dikelola dengan perencaan dan eksekusi yang tepat (bukan asal jadi terus dibiarkan terbengkalai).
Hal lain yan perlu dierhatikan adalah fasilitas atau infrastruktur fisik nya. Saya lihat pemerintah pemkot/walikota sudah menyediakan lahan untuk lepas landas dan landing yang cukup. Saya dengar juga akan diperluas lagi 1 ha. Akan lebih bagus lagi kalau di tambah sarana penunjang untuk pariwisata seperti tranportasi dari tempat landing ke atas lg, cafe2 dan tempat santai selama menunggu giliran terbang atau menunggu cuaca yang mendukung. Kalau hal2 ini bisa dipenuhi dengan mengandeng investor mungkin. bukan tidak mungkin objek pariwisata ini akan menjadi daya tarik untuk meningkatkan pariwisata di kota Batu.
ada yang tertarik jadi investor?
Sumber dan koleksi foto: blog.firdaus.info
